Iklan

Dari Budidaya Ternak Hingga Pemberdayaan Umat Global Qurban

Posted by sehrjejj on Jumat, 20 April 2018

Hawa dingin pagi menembus kulit, angin semilir terasa sejuk masuk dari celah jendela minibus yang membawa tim Aksi Cepat Tanggap (ACT).



Bersama rombongan jurnalis kemanusiaan, kami menuju kawasan Lumbung Ternak Masyarakat (LTM) Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (30/8).

Di jam tangan saya, waktu telah menunjukkan pukul 07.30 pagi. Sinar matahari sudah terlihat mengintip dari celah rerimbunan pohon sepanjang jalan berbukit tersebut.

Sekitar pukul 09.00 rombongan pun tiba di LTM seluas 5,5 hektar itu. Di atas lahan ini, sekitar 25 kandang kambing dan domba berukuran panjang kurang lebih 25 meter beratap seng berdiri.



Suara mengembik terdengar bersahutan dari ribuan kambing yang diternakkan tersebut. Suara tersebut sudah terdengar hingga radius satu kilometer.

Sedikitnya ada 1800 ekor kambing dan domba yang menghuni bangunan tersebut. "Dari 1800 ekor itu, 600 ekor sudah memenuhi syarat untuk qurban," ungkap Kepala LPM Tasikmalaya, H Rosmana kepada tim rombongan jurnalis ACT.

Sisanya, lanjut pria yang akrab disapa Kang Rosman, 800 ekor adalah indukan dan 400 ekor lainnya adalah anakan.

Sambil berjalan menuju pendopo kandang LTM, putra daerah asli desa Cintabodas, Tasikmalaya tersebut menceritakan tentang perkembangan LTM di tahun 2017. "Kami bukan hanya mengelola ternaknya saja, namun juga memanfaatkan kotoran hewan tersebut sebagai biogas dan pupuk. Program ini baru dilaksanakan tahun ini. Sebagai pilot project, baru enam rumah yang menggunakan biogas hasil kotoran kambing di LTM ini," tukas pria kelahiran 1972 tersebut.



Sedangkan pupuk kotoran ternaknya dimanfaatkan untuk menyuburkan lahan rumput odot. Rumput ini merupakan bahan pakan utama ternak. "Setiap harinya 62 karung pakan dihasilkan dari rumput Odot," ungkap Rosman.

Untuk pembudidayaan dan pengembangbiakan hewan ternak ini, kang Rosman kini dibantu oleh 26 karyawan tetap. "Sebagian besar adalah dari masyarakat sekitar," imbuhnya.

Selain itu, lumbung ternak yang berdiri sejak 6 tahun silam ini juga melibatkan sekitar 15 orang tenaga lepas dari masyarakat setempat. "Tenaga lepas (freelance) tersebut bertugas mencari rumput liar sebagai pakan ternak tambahan," ungkap pria berkacamata itu.

Selain rumput, hewan ternak juga diberikan pakan campuran ampas tahu dan dedak padi. "Untuk penggemukan kami berikan tambahan konsentrat kering setiap sore hari," katanya seraya menunjukkan pakan ternak yang sedang diolah oleh beberapa karyawannya.



Di LTM ini, tim jurnalis kemanusiaan ACT diajak juga menyisir setiap kandang. Mulai dari kandang indukan, kandang ternak siap kurban, kandang khusus pejantan dan lahan pembudidayaan pakan ternak rumput odot seluas 3,5 hektar.

Jurnalis dari Suara karya, Yon Pariyono, yang mengikuti kegiatan kunjungan ini mengapresiasi program LTM yang dibangun ACT tersebut. "Kegiatan LTM ini luar biasa, mampu mengangkat derajat hidup masyarakat sekitar. Program ini juga mampu memutar roda ekonomi masyarakat desa. Setidaknya ini yang saya temukan dari hasil penelusuran dan wawancara," imbuh wartawan senior tersebut.

Previous
« Prev Post

Related Posts

02.47

0 komentar:

Posting Komentar